Home / Bisnis / Penjelasan Native Advertising

Penjelasan Native Advertising

Apa Itu Native Advertising?

Pengguna internet pada dasarnya tak menyukai iklan. Iklan dianggap mengganggu kenyamanan, sekalipun ia sangat spesifik, sesuai dengan selera pengguna tersebut, sebagaimana yang ditampilkan Google atau Facebook.

Saat hendak menonton di YouTube, misalnya, orang ingin video yang mereka klik langsung aktif, tanpa harus menonton iklan di bagian depan dan tengah. Demikian juga saat membuka situs berita, pembaca jengkel ketika disuguhi iklan pop up di tengah halaman, atau flash yang mengganggu konsentrasi.

Karena itu, ketika ada aplikasi yang memungkinkan iklan-iklan tersebut hilang, pengguna internet langsung menyambutnya dengan antusias. Salah satu aplikasi terpopuler di dunia adalah AdBlock, yang bisa Anda tambahkan sebagai pengaya di Google Chrome atau Mozilla Firefox versi desktop.

Penelitian PageFair pada tahun 2015 menunjukkan, penetrasi aplikasi pemblokir iklan atau adblock di Indonesia mencapai 7 persen atau setara dengan 3,1 juta pengguna aktif per bulan. Tren pengguna adblock terus meningkat dan diperkirakan akan merambah perangkat mobile, terutama sesudah Apple merilis iOS 9. Kita tahu, melalui iOS, Apple memungkinkan pengguna untuk memblokir iklan dengan menggunakan aplikasi pihak ketiga.

 

Melihat fenomena ini, penerbit konten tentu tak bisa diam saja, terutama karena mereka masih mengandalkan iklan sebagai pendapatan utama untuk membuat konten yang disukai pembaca. Salah satu solusi yang dipakai banyak media massa untuk menyiasatinya adalah Native Advertising, yang mulai populer sejak tahun 2013. Istilah Native Advertising merujuk pada iklan yang tampil seperti berita. Masing-masing media biasanya memiliki istilah sendiri untuk konten semacam ini. Antara lain, Sponsored Content, Paid Post, Branded Content, Partner Content dan lain-lain.

Native Advertising berbeda dengan Advertorial atau Infomersial, Webtorial atau bentuk konten iklan yang lain. Advertorial berisi promosi terhadap suatu produk atau layanan dengan cara menonjolkan keunggulannya. Pembaca yang jeli pada umumnya langsung bisa menangkap unsur-unsur jualan ketika membaca Advertorial.

Sementara Native Advertising tampil seperti berita. Tujuannya, untuk memberikan informasi berguna atau pengetahuan untuk pembaca. Ia tak ditulis sedemikian rupa sehingga pembaca merasa perlu membeli produk tertentu. Alih-alih berupaya menjual produk atau layanan, Native Advertising lebih fokus untuk membantu pembaca, setidaknya memberikan pengetahuan baru kepada mereka. Ia tampil dalam semua format yang dipakai jurnalistik, seperti teks, narasi, video, foto dan infografis.

Meski demikian, bukan berarti pembaca sama sekali tak bisa membedakan berita dari redaksi dengan Native Advertising. Native Advertising tidak dirancang untuk mengaburkan “pagar api” jurnalistik dengan iklan. Karena itu, media yang sudah menerapkan iklan dengan format ini biasanya memisahkan secara tegas antara redaksi dan penulis iklan. Dengan kata lain, konten Native Advertising yang terbit di media tidak ditulis oleh jurnalis.

Harian The New York Times, misalnya, membingkai Native Advertising dengan garis warna biru di situs mereka agar berbeda dengan tampilan berita. Di bagian paling atas artikel juga terdapat tulisan “Paid Post”.

Salah satu pengiklan yang memanfaatkan Native Advertising di The New York Times adalah Netflix. Ketika hendak mempopulerkan serial “Orange Is The New Black”, mereka memasang artikel 1.500 kata berjudul “Women Inmates: Why the Male Model Doesn’t Work” yang lebih terlihat sebagai laporan jurnalistik daripada iklan. Sebab, artikel tersebut digarap berdasarkan fakta dan standar jurnalistik. Hasilnya, artikel tersebut berhasil menjadi salah satu yang terpopuler di The New York Times.

Media lain yang juga telah memanfaatkan Native Advertising termasuk Washington Post, Wired, Wall Street Journal, BuzzFeed, Gawker, The Los Angeles Times dan lain-lain. Di dalam negeri, kita sudah melihatnya di beberapa media online.

Popularitas Native Advertising diperkirakan akan terus meningkat. Di Amerika Serikat, Association of National Advertisers (ANA) mengatakan, 63 persen pengiklan berencana meningkatkan anggaran mereka untuk Native Advertising pada tahun 2015. Sementara eMarketer memperkirakan, pengiklan akan menghabiskan USD4.3 miliar untuk Native Advertising, naik 34 persen dari tahun lalu.

Angka tersebut masih tergolong kecil. Menurut ANA, dana yang dialokasikan pengiklan untuk Native Adverising hanya 5 persen dari total anggaran mereka. Namun, Business Insider memperkirakan, jumlahnya akan mencapai USD21 miliar pada tahun 2018.

Bagaimana media sukses membuat Native Advertising yang efektif? Kami akan membahasnya dalam artikel berikutnya. (metronews)

loading...

Check Also

Cara Mendapatkan Banyak Subscriber Di Youtube

Cara Mendapatkan Banyak Subscriber Di Youtube

Mendapatkan banyak subscriber di Youtube memiliki banyak keuntungan , selain video youtube kalian akan lebih …